Selasa, 25 November 2014

BAB III MERANCANG ARSITEKTUR BASIS DATA.

0 komentar
A.       Implikasi yang Bersifat Arsitektur terhadap Backup dan Recovery Diindentifikasi.
Implikasi yang bersifat arsitektur terhadap backup dan recovery dapat diidentifikasi dengan melakukan peninjauan ulang terhadap arsitektur basis data yang akan terlihat dari beberapa hal berikut.
1.      Kecepatan dan Kemudahan (Speed)
Basis data memungkinkan kita untuk dapat menyimpan data atau melakukan perubahan/manipulasi terhadap data atau menampilkan kembali data tersebut dengan lebih cepat dan mudah, daripada kita menyimpan data secara manual (non elektronis) atau secara elektronis (tetapi tidak dalam bentuk penerapan basis data, misalnya dalam bentuk spreadsheet atau dokumen teks biasa)
2.      Efisiensi Ruang Penyimpanan (Space)
Karena keterkaitan yang erat antarkelompok data dalam sebuah basis data maka redundansi (pengulangan) data pasti akan selalu ada. Banyaknya redundasi ini tentu akan memperbeesar ruang penyimpanan (baik dimemori utama maupun sekunder) yang harus disediakan. Dengan basis data, efisiensi atau optimalisasi penggunaan ruang penyimpanan dapat di lakukan. Selain itu, kita dapat melakukan penekanan jumlah redundansi data, baik dengan menerapkan sejumlah pengkodean atau dengan membuat relasi- relasi (dalam bentuk file ) antar kelompok data yang saling berhubungan.
3.      Keakuratan (Accuracy)
Pemanfaatan pengkodean atau pembentukan relasi antar data bersama dengan penerapan aturan/ batasan (constraint) tipe data, domain data, keunikan data, dsb dengan secara ketat dapat diterapkan dalam sebuah basis data sangat berguna untuk menekan ketidakakuratan pemasukan atau penyimpanan data.
4.      Ketersediaan (Availability)
Pertumbuhan data (baik disisi jumlah maupun jenisnya) sejalan dengan waktu akan semakin membutuhkan ruang penyimpanan yang besar. Padahal tidak semua data itu selalu kita gunakan karena itu kita dapat memilah adanya data utama / master, data transaksi,data histori hingga data kedaluarsa. Data yang sudah jarang atau tidak pernah kita gunakan dapat kita atur untuk dilepaskan dari sistem basis data yang sedang aktif (menjadi offline) baik dengan cara penghapusan atau dengan memindahkannya kemedia penyimpanan offline (seperti removable disk atau tape). Disisi lain, kepentingan pemakaian data, sebuah basis data dapat memiliki data yang disebar dibanyak lokasi geografis. Data nasabah sebuah bank , misalnya , dipisah-pisah  dan disimpan dilokasi yang sesuai dengan keberadana nasabah. Dengan pemanfaatan teknologi jaringan komputer, data yang berada disuatu lokasi / cabang dapat diakses(menjadi tersedia) bagi lokasi atau cabang lain.
5.      Kelengkapan (Completeness)
Lengkap/tidaknya data yang kita kelola dalam sebuah basis data bersifat preratif (baik terhadap kebutuhan pemakai atau waktu). Bila seorang pemakai sudah menganggap bahwa data yang dipelihara sudah lengkap maka pemakai yanga lain beum tentu berpendapat sama. Atau,yang sekarang dianggap sudah lengkap, belum tentu di masa yang akan datang juga demikian. Dalam sebuah basis data, disamping data kita juga harus menyimpan sturktur (baik yang mendefisinikan objek balam basis data maupun definisi detail dari setiap obyek seperti stuktur file). Untuk mengakomodasi kebutuhan kelengkapa data yang semakin berkembang maka kita hanya dapat menambahkan record data, tetapi juga dapat melakukan perubahan file-file batu  pada suatu tabel
6.      Keamanan (Security)
Memang ada sejumlah sistem pengolah basis data yang tidak menerapkan aspek keamanan dalam pengunaan basis data. Tetapi untuk sistem basis data yang besar dan serius, aspek keamanan juga dapat diterapkan dengan ketat dengan begitu, kita dapat menentukan siapa-siapa (pemakai) yang boleh menggunakan basis data beserta objek didalamnya dan menentukan jenis operasi apa saja yang dilakukannya.
7.      Kebersamaan Pemakaian (Sharability)
Pemakai basis data seringkali tidak terbatas pada satu pemakai saja, atau di satu lokasi saja atau oleh satu sistem /aplikasi saja. Data pegawai dala basis data kepegawaian , misalnya, dapat digunakan oleh banyak pemakai, dari sejumlah departemen dalam organisasi atau oleh banyak sistem (sistem penggajian,sistem akuntansi, sistem inventors, dan sebagainya). Basis data yang dikelola oleh sistem (aplikasi) yang mendukung lingkungan multiuser, akan dapat memenuhi kebutuhan ini, tetapi tetap dengan menjaga/menghindari terhadap menculnya persoalan baru seperti inkonsistensi data (karena data yang sama diubah oleh banyak pemakai pada saat yang bersamaan) atau kondisi deadlock (karena ada banyak pemakai yang saling menunggu untuk menggunakan data).
     Perancangan adalah langkah pertama dalam fase pengembangan rekayasa produk atau sistem. Perancangan itu adalah proses penerapan berbagai teknik dan prinsip yang bertujuan untuk mendefinisikan sebuah peralatan, satu proses atau satu sistem secara detail yang membolehkan dilakukan realisasi fisik. Fase ini adalah inti teknis dari proses rekayasa perangkat lunak. Pada fase ini elemen-elemen dari model analisa dikonversikan. Dengan menggunakan satu dari sejumlah metode perancangan, fase perancangan akan menghasilkan perancangan data ,perancangan antarmuka, perancangan arsitektur dan perancangan prosedur.
            Banyak langkah yang perlu dilakukan dalam peracangan perangkat lunak. Langkah-langkah tersebut menggambarkan struktur data, struktur program, karakteristik antarmuka dan detail prosedur yang merupakan sintesa dari keperluan-keperluan informasi. Perancangan data adalah langkah pertama dari empat kegiatan perancangan data adalah memilih gambaran logik dari struktur data yang dikenali selama fase spesifikasi dan pendefinisian keperluan. Pemilihan ini melibatkan analisis algoritma dari alternatif struktur dalam rangka menentukan perancangan yang paling efisien.
            Berikut adalah petunjuk dalam melakukan input data :
1)      Kurangi jumlah aksi input yang diperlukan pemakai.
2)      Jaga konsistensi antara tampilan informasi dan input data.
3)      Bolehkan pemakai melakukan penyesuaian input.
4)      Interaksi harus fleksibel tetapi dapat disetel ke mode input yang disukai pemakai.
5)      Padamkan perintah yang tidak sesuai dengan aksi saat itu, pemakai mengendalikan aliran interaksi.
6)      Sediakan help untuk membantu aksi semua aksi input.
7)      Buang input ‘mickey mouse’.
B.       Mengidentifikai dan Menguji Skenario Kegagalan dan Resiko
Pengidentifikasian dan pengujian terhadap berbagai skenario kegagalan dan resiko dapat dilakukan dengan memantau situasi sebagai berikut :
1)      Pencurian
2)      Kehilangan Kerahasiaan
3)      Kehilangan Privacy.
4)      Kehilangan integritas.
5)      Kehilangan ketersediaan.
Proteksi basis data terhadap ancaman/gangguan melalui kendali yang bersifat teknis maupun administrasi perlu dilakukan.
Ancaman /gangguan baik disengaja atau tidak yang merusak sistem sehingga merugikan organisasi dapat berupa :
1)         Tangible, yaitu kehilangan/kerusakan hardware, software, data.
2)         Intangible, yaitu kehilangan kredibilitas, kehilangan kepercayaan client.
Kerusakan sistem basis data dapat mengakibatkan aktivitas terhenti. Lamanya waktu pemulihan basis data bergantung pada berikut ini :
1)         Apakah ada hardware dan software alternatif yang dapat digunakan.
2)         Kapan backup terakhir dilakukan.
3)         Waktu yang diperlukan untuk me-restore sistem.
4)         Apakah data yang hilang dapat dipulihkan.
Sikap Kerja
1.      Mengidentifikasi implikasi yang bersifat arsitektur terhadap back up dan recovery.
2.      Mengidentifikasi dan menguji berbagai skenario kegagalan dan resiko.

Rabu, 12 November 2014

MERANCANG ARSITEKTUR BASIS DATA

0 komentar
BAB III
MERANCANG ARSITEKTUR BASIS DATA.

A.       Implikasi yang Bersifat Arsitektur terhadap Backup dan Recovery Diindentifikasi.
Implikasi yang bersifat arsitektur terhadap backup dan recovery dapat diidentifikasi dengan melakukan peninjauan ulang terhadap arsitektur basis data yang akan terlihat dari beberapa hal berikut.
1.      Kecepatan dan Kemudahan (Speed)
Basis data memungkinkan kita untuk dapat menyimpan data atau melakukan perubahan/manipulasi terhadap data atau menampilkan kembali data tersebut dengan lebih cepat dan mudah, daripada kita menyimpan data secara manual (non elektronis) atau secara elektronis (tetapi tidak dalam bentuk penerapan basis data, misalnya dalam bentuk spreadsheet atau dokumen teks biasa)
2.      Efisiensi Ruang Penyimpanan (Space)
Karena keterkaitan yang erat antarkelompok data dalam sebuah basis data maka redundansi (pengulangan) data pasti akan selalu ada. Banyaknya redundasi ini tentu akan memperbeesar ruang penyimpanan (baik dimemori utama maupun sekunder) yang harus disediakan. Dengan basis data, efisiensi atau optimalisasi penggunaan ruang penyimpanan dapat di lakukan. Selain itu, kita dapat melakukan penekanan jumlah redundansi data, baik dengan menerapkan sejumlah pengkodean atau dengan membuat relasi- relasi (dalam bentuk file ) antar kelompok data yang saling berhubungan.
3.      Keakuratan (Accuracy)
Pemanfaatan pengkodean atau pembentukan relasi antar data bersama dengan penerapan aturan/ batasan (constraint) tipe data, domain data, keunikan data, dsb dengan secara ketat dapat diterapkan dalam sebuah basis data sangat berguna untuk menekan ketidakakuratan pemasukan atau penyimpanan data.
4.      Ketersediaan (Availability)
Pertumbuhan data (baik disisi jumlah maupun jenisnya) sejalan dengan waktu akan semakin membutuhkan ruang penyimpanan yang besar. Padahal tidak semua data itu selalu kita gunakan karena itu kita dapat memilah adanya data utama / master, data transaksi,data histori hingga data kedaluarsa. Data yang sudah jarang atau tidak pernah kita gunakan dapat kita atur untuk dilepaskan dari sistem basis data yang sedang aktif (menjadi offline) baik dengan cara penghapusan atau dengan memindahkannya kemedia penyimpanan offline (seperti removable disk atau tape). Disisi lain, kepentingan pemakaian data, sebuah basis data dapat memiliki data yang disebar dibanyak lokasi geografis. Data nasabah sebuah bank , misalnya , dipisah-pisah  dan disimpan dilokasi yang sesuai dengan keberadana nasabah. Dengan pemanfaatan teknologi jaringan komputer, data yang berada disuatu lokasi / cabang dapat diakses(menjadi tersedia) bagi lokasi atau cabang lain.
5.      Kelengkapan (Completeness)
Lengkap/tidaknya data yang kita kelola dalam sebuah basis data bersifat preratif (baik terhadap kebutuhan pemakai atau waktu). Bila seorang pemakai sudah menganggap bahwa data yang dipelihara sudah lengkap maka pemakai yanga lain beum tentu berpendapat sama. Atau,yang sekarang dianggap sudah lengkap, belum tentu di masa yang akan datang juga demikian. Dalam sebuah basis data, disamping data kita juga harus menyimpan sturktur (baik yang mendefisinikan objek balam basis data maupun definisi detail dari setiap obyek seperti stuktur file). Untuk mengakomodasi kebutuhan kelengkapa data yang semakin berkembang maka kita hanya dapat menambahkan record data, tetapi juga dapat melakukan perubahan file-file batu  pada suatu tabel
6.      Keamanan (Security)
Memang ada sejumlah sistem pengolah basis data yang tidak menerapkan aspek keamanan dalam pengunaan basis data. Tetapi untuk sistem basis data yang besar dan serius, aspek keamanan juga dapat diterapkan dengan ketat dengan begitu, kita dapat menentukan siapa-siapa (pemakai) yang boleh menggunakan basis data beserta objek didalamnya dan menentukan jenis operasi apa saja yang dilakukannya.
7.      Kebersamaan Pemakaian (Sharability)
Pemakai basis data seringkali tidak terbatas pada satu pemakai saja, atau di satu lokasi saja atau oleh satu sistem /aplikasi saja. Data pegawai dala basis data kepegawaian , misalnya, dapat digunakan oleh banyak pemakai, dari sejumlah departemen dalam organisasi atau oleh banyak sistem (sistem penggajian,sistem akuntansi, sistem inventors, dan sebagainya). Basis data yang dikelola oleh sistem (aplikasi) yang mendukung lingkungan multiuser, akan dapat memenuhi kebutuhan ini, tetapi tetap dengan menjaga/menghindari terhadap menculnya persoalan baru seperti inkonsistensi data (karena data yang sama diubah oleh banyak pemakai pada saat yang bersamaan) atau kondisi deadlock (karena ada banyak pemakai yang saling menunggu untuk menggunakan data).
     Perancangan adalah langkah pertama dalam fase pengembangan rekayasa produk atau sistem. Perancangan itu adalah proses penerapan berbagai teknik dan prinsip yang bertujuan untuk mendefinisikan sebuah peralatan, satu proses atau satu sistem secara detail yang membolehkan dilakukan realisasi fisik. Fase ini adalah inti teknis dari proses rekayasa perangkat lunak. Pada fase ini elemen-elemen dari model analisa dikonversikan. Dengan menggunakan satu dari sejumlah metode perancangan, fase perancangan akan menghasilkan perancangan data ,perancangan antarmuka, perancangan arsitektur dan perancangan prosedur.
            Banyak langkah yang perlu dilakukan dalam peracangan perangkat lunak. Langkah-langkah tersebut menggambarkan struktur data, struktur program, karakteristik antarmuka dan detail prosedur yang merupakan sintesa dari keperluan-keperluan informasi. Perancangan data adalah langkah pertama dari empat kegiatan perancangan data adalah memilih gambaran logik dari struktur data yang dikenali selama fase spesifikasi dan pendefinisian keperluan. Pemilihan ini melibatkan analisis algoritma dari alternatif struktur dalam rangka menentukan perancangan yang paling efisien.
            Berikut adalah petunjuk dalam melakukan input data :
1)      Kurangi jumlah aksi input yang diperlukan pemakai.
2)      Jaga konsistensi antara tampilan informasi dan input data.
3)      Bolehkan pemakai melakukan penyesuaian input.
4)      Interaksi harus fleksibel tetapi dapat disetel ke mode input yang disukai pemakai.
5)      Padamkan perintah yang tidak sesuai dengan aksi saat itu, pemakai mengendalikan aliran interaksi.
6)      Sediakan help untuk membantu aksi semua aksi input.
7)      Buang input ‘mickey mouse’.

B.       Mengidentifikai dan Menguji Skenario Kegagalan dan Resiko
Pengidentifikasian dan pengujian terhadap berbagai skenario kegagalan dan resiko dapat dilakukan dengan memantau situasi sebagai berikut :
1)      Pencurian
2)      Kehilangan Kerahasiaan
3)      Kehilangan Privacy.
4)      Kehilangan integritas.
5)      Kehilangan ketersediaan.
Proteksi basis data terhadap ancaman/gangguan melalui kendali yang bersifat teknis maupun administrasi perlu dilakukan.
Ancaman /gangguan baik disengaja atau tidak yang merusak sistem sehingga merugikan organisasi dapat berupa :
1)         Tangible, yaitu kehilangan/kerusakan hardware, software, data.
2)         Intangible, yaitu kehilangan kredibilitas, kehilangan kepercayaan client.
Kerusakan sistem basis data dapat mengakibatkan aktivitas terhenti. Lamanya waktu pemulihan basis data bergantung pada berikut ini :
1)         Apakah ada hardware dan software alternatif yang dapat digunakan.
2)         Kapan backup terakhir dilakukan.
3)         Waktu yang diperlukan untuk me-restore sistem.
4)         Apakah data yang hilang dapat dipulihkan.
Sikap Kerja
1.      Mengidentifikasi implikasi yang bersifat arsitektur terhadap back up dan recovery.
2.      Mengidentifikasi dan menguji berbagai skenario kegagalan dan resiko.